:: 62 8000 xxx info@ppriyash.sch.id
Info Sekolah
Kamis, 09 Jul 2026
  • Selamat Datang di Website Official Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Rejing
  • Selamat Datang di Website Official Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Rejing
31 Mei 2023

KETULUSAN (IKHLAS) HATI PENDIDIK DALAM MENJALANI PROSES PEMBELAJARAN AKAN MEMBANGUN KARAKATER MULIA TERHADAP PARA PESERTA DIDIK

Rab, 31 Mei 2023 Dibaca 431x Berita

Oleh: Ahmad Taufiq Zein

Diantara problematika di dunia pendidikan yang banyak menjadi sorotan masyarakat adalah merosotnya etika dan akhlaq. Harapan diantara banyak orang tua menyekolahkan putra-putrinya di suatu lembaga pendidikan adalah dapat meningkatan kualitas mutu keilmuan dan karakter mulia yang mampu mewujudkan dalam kehidupannya.

Untuk menciptakan perkembangan pendidikan yang berkualitas dan bermutu, maka sangat diperlukan sebuah agen perubahan (agent of change). Sedangkan panglima utama agen perubahan dalam lingkup pendidikan di sekolah adalah para pendidik yaitu guru. Tugas utama bagi para pendidik adalah membawa peserta didik ke arah perubahan yang lebih baik dari pengetahuan (keilmuan), sikap, dan karakternya.

Pendidik yang begitu signifikan dalam agen perubahan bagi peserta didik. Hendaknya menjadi agen perubahan dari sebuah cerminan dan menjadi teladan bagi para peserta didiknya. Teladan yang baik atau _uswatun hasanah_ itu tentu di mulai dari para pendidik terlebih dahulu (ibda’ binafsik).

Selain itu, agar teladan dari para pendidik itu menjadi sinyal dan besar pengaruhnya dalam proses agen perubahan kepada peserta didik maka tidak dapat dipungkiri, memiliki karakteristik yang baik adalah sebuah keniscayaan.

Syekh Hafizh Hasan Al-Mas’udi pengarang kitab Taisirul Khallaq mensyaratkan bagi seorang guru harus memiliki karakter baik, bertaqwa, sabar dan wibawa tujuannya adalah agar menjadi teladan dan cerminan sehingga di contoh dan diikuti oleh para muridnya.

Sementara, Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, seorang tokoh pendidikan modern, menulis bahwa sekurang-kurangnya guru itu memiliki 7 (tujuh) karakter yang harus melekat, yakni (1) zuhud, (2) jiwa yang bersih dari sifat dan akhlak yang buruk, (3) ikhlas, (4) pemaaf, (5) mampu menempatkan diri sebagai bapak atau orang tua, sehingga mencintai dan memikirkan masa depan anak didiknya, (6) mengetahui bakat dan minat muridnya, dan (7) menguasai bidang studi atau materi yang diajarkan.

Jadi, memiliki kepribadian dan karakter yang baik bagi para pendidik menjadi kunci utama agen perubahan peserta didik sebagai tersalurnya ilmu pengetahuan dan karakter mulia melalui keteladanan yang akan dicontoh dan diikuti oleh anak didiknya. Pendidik yang seperti itu akan menumbuhkan dan menelurkan bibit-bibit unggul berkarakter mulia.

Di antara karakteristik pendidik yang telah disebutkan di atas, ketulusan (keikhlasan) oleh Al-Imam Nawawi di tempatkan pada urutan pertama di dalam kitab Adabul Alim Wal Mutaallim bagian syarat adab seorang pendidik terhadap dirinya sendiri.

Mengapa karakter ikhlas begitu istimewa dalam mendidik?

Imam Abdullah bin Dhaifillah ar-Rahili dalam karyanya Thariquka ila al-Ikhlash wa al-Fiqh fi ad-Din (hal. 13) mengatakan:

وحقيقة الإخلاص صدقٌ في النيَّة والقول والعمل، فيما يتعلق بحقوق الله تعالى، وفيما يتعلق بحقوق المخلوقين

“Ikhlas yang sebenarnya adalah ketika niat yang tulus sejalan dengan ucapan dan perbuatan, baik amal yang kaitannya dengan relasi horizontal (hablum minallah) maupun vertikal (hablum minannas).”

Artinya, bila ikhlas itu diartikan niat tulus yang sejalan ucapan dan perbuatan, maka perbuatan dalam mengajar, mendidik, membimbing menjadi pekerjaan yang selalu menjadi prioritas utamanya, kata lain ikhlas itulah yang akan melahirkan kedisiplinan.

Nah, dari kedisiplinan inilah kemudian yang akan membangun karakter mulia terhadap peserta didik, yang sejak awal dibimbing, dididik, dan diarahkan secara kontinyu dan berkesinambungan, maka hasilnya bukan hanya menjadi cerdas secara akademik melainkan juga cerdas secara karakter, spritual, hati, dan sosial.

Artikel ini memiliki

2 Komentar

Tinggalkan Komentar